KEPALA PUSKESMAS
Kepala Puskesmas




Apa Sih Difteri Itu ????

Pada akhir tahun 2017 sampai dengan awal tahun 2018, Indonesia dikejutkan dengan meningkatnya kasus penyakit Difteri. Hal ini sedikit banyaknya menimbulkan ketakutan pada masyarakat.
Tidak sedikit pasien di Puskesmas Kembang Janggut yang datang berkunjung ke Puskesmas untuk menanyakan perihal penyakit tersebut. Apalagi jika ada keluarga mereka yang sakit dengan gejala mirip Difteri.

Dilansir dari situs BBC Indonesia, disebutkan bahwa “Kementerian Kesehatan bahkan sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) karena penyakit mematikan yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae ini telah memakan puluhan korban jiwa setidaknya di 20 provinsi.”
Dalam Data Kementerian Kesehatan ditunjukkan hingga November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 propinsi yang melaporkan kasus difteri. Dari seluruh laporan tersebut terdapat 622 kasus dan 32 kasus diantaranya meninggal dunia.

Sementara dari Situs harian Republika, disebutkan pada kurun waktu Oktober hingga November 2017, ada 11 Propinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri, antara lain di Sumatra Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pun menyatakan bahwa kasus Difteri kian bertambah menjadi 28 provinsi di Indonesia yang terjadi di 142 kabupaten-kota.

Masih dari siitus harian Republika, disebutkan pula bahwa kasus warga terjangkit penyakit difteri di Provinsi Kalimantan Timur sudah terjadi selama dua tahun. Hal ini berdasarkan pendataan Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, dimana pada tahun 2016 tercatat ada sembilan kasus sementara pada tahun 2017 terdeteksi 14 kasus.
Sembilan kasus difteri yang terdata pada 2016 lalu, yakni tujuh kasus di Kota Balikpapan, satu kasus di Kabupaten Penajam Paser Utara, dan satu kasus terjadi di Kota Bontang. Sedangkan 14 kasus yang terjadi pada tahun 2017 per 15 Desember, yakni di Kota Balikpapan tercatat ada tujuh kasus, di Penajam Paser Utara dilaporkan ada tiga kasus, kemudian di Kabupaten Kutai Kartanegara juga dilaporkan satu kasus, di Kabupaten Kutai Barat satu kasus, Kabupaten Kutai Timur satu kasus, dan di Kota Samarinda tercatat ada satu kasus.

Mungkin bagi sebagian besar masyarakat, kata Difteri mungkin cuma dianggap sebagai suatu penyakit biasa saja. Tapi sejak belakangan ini, apalagi dengan makin bertambahnya pasien yang meninggal akibat penyakit ini, akhirnya masyarakat jadi banyak yang bertanya-tanya sebenarnya Difteri itu apa sih?

Kali ini kami akan coba mengupas apa sih Difteri itu? Bagaimana gejalanya? Apa obatnya? Kok bisa menyebabkan penderita meninggal?

Definisi

Difteri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae dan juga Corynebacterium ulcerans.
Bakteri Difteri ini menyerang bagian selaput lendir di hidung dan tenggorokan dan terkadang bisa menyerang kulit serta menyebabkan bisul. Biasanya bisul-bisul tersebut dapat sembuh dalam hitungan bulan, akan tetapi biasanya meninggalkan bekas di kulit. Penyakit difteri ini sangat menular serta termasuk infeksi serius dan dapat mengancam jiwa apabila tidak segera ditangani.

Gejala
Diagnosis awal penyakit Difteri terlihat dengan gejala sebagai berikut :

  1. Terbentuknya membran berwarna abu-abu yang menutupi amandel dan tenggorokan.
  2. Demam dan menggigil.
  3. Sulit bernapas ataupun napas yang cepat.
  4. Sakit tenggorokan serta suara serak.
  5. Lemas dan lelah.
  6. Pembengkakan kelenjar limfa di bagian leher.
  7. Hidung beringus. Pada awalnya cair, akan tetapi lama-kelamaan menjadi lebih kental dan terkadang juga berdarah.

Gejala Difteri ini umumnya sama dengan gejala pada radang tenggorokan maupun pada tonsilitis (Amandel). Namun khusus pada Difteri, gejala yang tampak di antaranya adalah sulit bernapas, demam, lemas, serta yang khas adalah terbentuknya lapisan tipis yang menutupi tenggorokan dan amandel. Pada anak-anak, gejala Difteri bisa terindikasi ketika anak mengalami demam yang tak begitu tinggi namun terlihat sangat lemah.

Pengobatan

Jika penderita masuk ke Rumah Sakit atau Puskesmas, maka penderita akan dirawat di dalam ruang isolasi untuk menghindari penularan lebih lanjut.

Langkah pengobatan dilakukan dengan memberikan antibiotik serta antitoksin.

Antibiotik berfungsi untuk membunuh bakteri serta menyembuhkan infeksi. Dosis pemakaian antibiotik tergantung dari tingkat keparahan gejala serta lamanya menderita difteri.
Pada sebagian besar penderita, bakteri Difteri dianggap sudah tidak dapat menular setelah meminum antibiotik dalam waktu dua hari. Akan tetapi pemberian antibiotik tetap diberikan hingga dua minggu. Setelah itu, penderita akan diperiksa di laboratorium lagi. Apabila bakteri Difteri masih ditemukan di dalam tubuh penderita, maka antibiotik akan dilanjutkan lagi selama 10 hari.

Sedangkan untuk Antitoksin, ini berfungsi untuk membantu menetralisasi toksin atau racun Difteri yang telah menyebar di dalam tubuh.
Untuk penderita yang mengalami sulit bernapas karena adanya hambatan yang disebabkan oleh membran abu-abu yang ada di dalam tenggorokan, maka akan dilakukan proses pengangkatan membran.
Untuk penderita Difteri yang memiliki gejala bisul di kulit, dilakukan pembersihan bisul dengan menggunakan sabun dan air secara seksama.

Selain penderita, keluarga atau orang-orang yang ada di dekatnya akan disarankan untuk memeriksakan dirinya sebab penyakit ini sangat mudah menular. Petugas medis yang ikut menangani penderita Difteri juga harus memeriksakan dirinya. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menghindari penyebaran dari Bakteri Difteri.

Komplikasi Difteri

Penanganan dan pengobatan difteri haruslah segera dilakukan dengan tujuan untuk mencegah penyebaran dan sekaligus mencegah terjadinya komplikasi yang lebih yang serius, terutama sekali pada penderita anak-anak. Karena diperkirakan lima penderita difteri yang masih balita dan juga berusia 40 tahun ke atas meninggal dunia akibat komplikasi difteri.

Jika tidak diobati dengan cepat dan tepat, toksin dari bakteri Difteri dapat memicu beberapa komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa. Beberapa di antaranya meliputi:

  1. Masalah Pernapasan. Sel-sel yang mati akibat toksin yang diproduksi bakteri difteri akan membentuk membran abu-abu yang dapat menghambat pernapasan. Partikel-partikel membran juga dapat luruh dan masuk ke paru-paru. Hal ini berpotensi memicu reaksi peradangan pada paru-paru sehingga fungsinya akan menurun secara drastis dan menyebabkan gagal napas.
  2. Kerusakan Jantung. Selain paru-paru, toksin difteri berpotensi masuk ke jantung dan menyebabkan peradangan otot jantung atau miokarditis. Komplikasi ini dapat menyebabkan masalah, seperti detak jantung yang tidak teratur, gagal jantung, dan kematian mendadak.
  3. Kerusakan Saraf. Toksin dapat menyebabkan penderita mengalami masalah sulit menelan, masalah saluran kemih, paralisis atau kelumpuhan pada diafragma, serta pembengkakan saraf tangan dan kaki. Paralisis pada diafragma akan membuat pasien tidak bisa bernapas sehingga membutuhkan alat bantu pernapasan atau respirator. Paralisis diagfragma dapat terjadi secara tiba-tiba pada awal muncul gejala atau berminggu-minggu setelah infeksi sembuh. Karena itu, penderita difteri anak-anak yang mengalami komplikasi umumnya dianjurkan untuk tetap di rumah sakit hingga 1,5 bulan.
  4. Difteri Hipertoksik. Komplikasi ini adalah bentuk difteria yang sangat parah. Selain gejala yang sama dengan difteri biasa, difteri hipertoksik akan memicu pendarahan yang parah dan gagal ginjal.

Pencegahan

Langkah pencegahan yang paling efektif untuk difteri yaitu dengan melakukan vaksin. Pencegahan difteri ini tergabung dalam vaksin yang biasa disebut vaksin DPT. Vaksin DPT ini berisi vaksin untuk penyakit difteri, tetanus, serta pertusis atau batuk rejan.

Vaksin DPT merupakan salah satu dari lima imunisasi yang wajib bagi anak-anak di Indonesia. Adapun pemberian vaksin ini biasanya dilakukan sebanyak lima kali saat anak berumur 2 bulan; 4bulan; 6 bulan; 1,5-2 tahun, serta 5 tahun.
Adapun perlindungan tersebut umumnya bisa melindungi anak-anak terhadap difteri seumur hidup. Akan tetapi vaksinasi ini bisa diberikan lagi pada saat anak berusia 11-18 tahun dengan tujuan untuk memaksimalkan keefektifan nya.

Bagi penderita difteri yang telah sembuh juga sangat disarankan untuk menerima lagi vaksin karena masih memiliki resiko untuk tertular lagi dengan penyakit yang sama.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

KASUBAG TATA USAHA
Kasubag Tata Usaha


PENDAFTARAN PASIEN :
HARI
JAM
Senin-Kamis
07:30-11:30
Jumat
07:30-10:00
Sabtu
07:30-11:00
JAM KANTOR :
HARI
JAM
Senin-Kamis
07:30-14:30
(Istirahat)
12:00-13:00
Jumat
07:30-11:00
Sabtu
07:30-13:00
ARTIKEL BLUD

PKM KBJ MESSENGER

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru Puskesmas Kembang Janggut secara gratis

Ketikkan Email Anda




error: Hayoo...Mau Ngapain ???